Rabu, 10 Maret 2010

PENANGANAN DAN PENCEGAHAN KASUS PENYAKIT RABIES


Oleh. drh. Dyah Mahendrasari
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang

Rabies merupakan suatu penyakit hewan menular akut yang disebabkan oleh virus neurotropik dari ss RNA virus; genus Lyssavirus; famili Rhabdoviridae. Virus Rabies termasuk dalam serotipe 1, serotipe 2 (Lagos bat virus), serotipe 3 (Mokola rhabdovirus), dan serotype 4 (Duvenge rhabdovirus).
Rabies menyerang sistem syaraf pusat hewan berdarah panas dan manusia. Bersifat zoonosis yaitu dapat menular pada manusia lewat gigitan atau cakaran. atau dapat pula lewat luka yang terkena air liur hewan penderita rabies Hewan yang terinfeksi dapat berubah menjadi lebih agresif/ ganas dan dapat menyerang manusia.. Rabies sangat berbahaya, bila ditemukan gejala klinis dan penanganannya tidak benar biasanya diikuti kematian, baik pada hewan maupun manusia.


Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan Dan Manusia
Pada hewan, penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).
Tanda – tanda Rabies bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) :
  • Suka bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk.
  • Terjadi kelumpuhan tubuh, hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.
  • Kejang berlangsung singkat dan kadang sering tidak terlihat.
  • Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Kematian akan terjadi dalam beberapa jam.
Tanda – tanda Rabies bentuk ganas (Furious Rabies) :
  • Hewan menjadi tidak ramah, agresif dan tidak lagi menurut pemiliknya.
  • Air liur keluar berlebihan, nafsu makan hilang, suara menjadi parau
  • Menyerang dan menggigit apa saja yang dijumpai.
  • Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilengkungkan ke bawah perut diantara kedua paha belakangnya .
  • Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain, tetapi bila dipegang akan menggigit dan menjadi ganas dalam beberapa jam.
  • Kejang-kejang kemudian lumpuh, biasanya mati setelah 4-7 hari timbul gejala atau paling lama 12 hari setelah penggigitan.
Pada hewan pemamah biak, tanda klinis rabies ditandai hewan menjadi gelisah, gugup, liar dan rasa gatal pada tubuh, terdapat kelumpuhan pada kaki belakang dan akhirnya hewan akan mati.
Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia
  • Stadium permulaan rabies sulit diketahui, sehingga perlu diperhatikan riwayat gigitan hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera .
  • Timbul gejala-gejala lesu, nafsu makan hilang, mual, demam tinggi, sakit kepala, dan tidak bisa tidur.
  • Rasa nyeri di tempat bekas luka gigitan dan nampak kesakitan serta menjadi gugup, bicara tidak karuan, dan selalu ingin bergerak
  • Rasa takut pada air yang berlebihan, peka suara keras dan cahaya serta udara.
  • Air liur dan air mata keluar berlebihan, pupil mata membesar.
  • Kejang-kejang lalu mengalami kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia. Biasanya penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala-gejala / tanda-tanda pertama timbul.
Diagnosa
Rabies dapat dilakukan dengan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan histophatologis jaringan otak, (hippocampus, cortex, medulla oblongata), test DFA dari jaringan kulit-biopsi kulit dari sensory vibrissae dari area maxillary, termasuk folikel rambut subkutan terdalam. ELISA, identifikasi antibodimonoklonal, isolasi secara biologis pada hewan percobaan dan identifikasi virus dengan uji serologis seperti FAT, immunoperoxide, VN, dan FAVN.
Diferensial diagnosis
Hewan yang diduga rabies harus cermat dan serius saat monitoring/observasi, apabila anjing dan kucing memperlihatkan perubahan perilaku atau menunjukkan gejala syaraf yang tidak diketahui sebabnya. Gejala syaraf kadang dapat diakibatkan oleh penyakit syaraf – tumor otak, viral encephalitis, luka kepala, paralysis laryngeal, maupun infeksi virus pseudorabies.
Cara Penularan
Semua hewan berdarah panas rentan terhadap rabies serta berpotensi menularkan rabies pada manusia. Hewan-hewan yang biasa menyebarkan penyakit rabies adalah anjing, kucing, kelelawar, kera, dan karnivora liar. Lebih dari 90% kasus rabies pada manusia ditularkan oleh anjing.
Pada hewan penderita Rabies, virus terdapat di susunan syaraf pusat dan ditemukan dengan jumlah banyak pada air liurnya. Virus ditularkan ke hewan lain atau ke manusia melalui luka gigitan hewan penderita rabies dan luka yang terkena air liur hewan atau manusia penderita rabies.
Masa inkubasi penyakit Rabies pada hewan timbul kurang lebih 2 minggu (10 hari – 8 minggu) setelah gigitan hewan rabies. Sedangkan pada manusia 2-3 minggu sampai 1 tahun, tergantung pada lokasi luka gigitan (jauh dekatnya luka dengan susunan syaraf pusat), banyaknya syaraf pada sekitar luka gigitan, pathogenitas dan jumlah virus yang masuk melalui luka gigitan, jumlah luka gigitan, serta dalam dan parahnya luka bekas gigitan
Penanganan Kasus Hewan Penderita Rabies
Seseorang yang digigit hewan penderita rabies penanganan yang dilakukan harus ditangani dengan secepat dan sesegera mungin, hal tersebut bertujuan untuk mengurangi efek maupun mematikan virus rabies yang masuk ke tubuh melalui luka gigitan :
  1. Usaha yang paling efektif untuk dilakukan adalah dengan segera mencuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Lalu keringkan dengan kain yang bersih..
  2. Luka diberi antiseptik (obat luka yang tersedia misalnya betadine, obat merah, alkohol 70%, Yodium tincture atau lainnya) lalu dibalut dengan pembalut yang bersih.
  3. Penderita luka gigitan harus segera dibawa ke dokter, Puskesmas atau rumah sakit yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara maupun perawatan lebih lanjut, sambil menunggu hasil observasi hewan tersangka rabies.
  4. Walaupun sudah dilakukan pencucian luka gigitan, penderita harus dicuci kembali lukanya di Puskesmas atau rumah sakit.
  5. Luka gigitan dibalut longgar dan tidak dibenarkan dijahit, kecuali pada luka yang sangat parah. Jika keadaan terpaksa dilakukan penjahitan, maka harus diberikan serum anti rabies (SAR) sesuai dosis, selain itu dipertimbangkan perlu tidaknya pemberian vaksin anti tetanus, maupun antibiotik dan analgetik.
Hewan – hewan yang mengigit manusia dan dicurigai menderita rabies, maka harus diambil tindakan sebagai berikut :
  1. Hewan yang menggigit harus ditangkap dan dilaporkan ke instansi terkait ( Dinas Peternakan dan Pertanian ) untuk dilakukan observasi dan diperiksa kesehatannya selama 10 – 14 hari.
  2. Jika mati dalam observasi maka kepala anjing tersebut dikirim ke laboratorium untuk kepastian diagnosa penyebab kematian. Tetapi bila hasil observasi negatif rabies yaitu hewan tetap hidup, maka hewan divaksinasi anti rabies
  3. Hewan pasca observasi dan sudah disuntik rabies, dapat dikembalikan kepada pemiliknya. Apabila tidak diketahui pemiliknya (hewan liar) maka hewan dapat dimusnahkan atau diberikan pada orang yang berminat memelihara.
  4. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap, maka harus dibunuh dan diambil kepalanya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
  5. Bila hewan yang menggigit tidak dapat ditemukan, maka orang yang mengalami gigitan harus dibawa ke rumah sakit khusus.
Pengobatan
Pada hewan tidak ada pengobatan yang efektif, sehingga apabila hasil diagnosa positif rabies, diindikasikan mati/euthanasia. Sedangkan pada manusia dapat dilakukan pengobatan Pasteur, pemberian VAR dan SAR sesuai dengan prosedur standar operasi (SOP).
Pencegahan Rabies
Kasus zoonosis yaitu penyakit menular dari hewan ke manusia, cara penanganannya dan pencegahannya ditujukan pada hewan penularnya. Pada manusia, vaksin rutin diberikan kepada orang-orang yang pekerja dengan resiko tinggi, seperti dokter hewan, pawang binatang, peneliti khusus hewan dan lainnya.
Selain itu pencegahan rabies pada hewan dapat dilakukan dengan cara :
  1. Memelihara anjing dan hewan lainnya dengan baik dan benar. Jika tidak dipelihara dengan baik dapat diserahkan ke Dinas Peternakan atau para pecinta hewan.
  2. Mendaftarkan anjing ke Kantor Kelurahan/Desa atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
  3. Pada hewan virus rabies dapat ditangkal dengan vaksinasi secara rutin 1-2 kali setahun tergantung vaksin yang digunakan, ke Dinas Peternakan, Pos Kesehatan Hewan atau Dokter Hewan Praktek
  4. Semua anjing/kucing yang potensial terkena, divaksin setelah umur 12 minggu, lau 12 bulan setelahnya, dilanjutkan dengan tiap 3 tahun dengan vaksin untuk 3 tahun, untuk kucing harus vaksin inaktif
  5. Penangkapan/eliminasi anjing, kucing, dan hewan lain yang berkeliaran di tempat umum dan dianggap membahayakan manusia.
  6. Pengamanan dan pelaporan terhadap kasus gigitan anjing, kucing, dan hewan yang dicurigai menderita rabies.
  7. Penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit rabies.
  8. Menempatkan hewan didalam kandang, memperhatikan serta menjaga kebersihan dan kesehatan hewan.
  9. Setiap hewan yang beresiko rabies harus diikat/dikandangkan dan tidak membiarkan anjing bebas berkeliaran.
  10. Menggunakan rantai pada leher anjing dengan panjang tidak lebih dari 2 meter bila tdak dikandang atau saat diajak keluar halaman rumah.
  11. Tidak menyentuh atau memberi makan hewan yang ditemui di jalan
  12. Daerah yang sudah bebas rabies, haeus mencegah masuknya anjing, kucing atau hewan sejenisnya dari daerah yang tertular rabies.
  13. Pada area terkontaminasi dilakukan desinfeksi menggunakan 1:32 larutan (4 ounces per gallon) dari pemutih pakaian untuk menginaktifkan virus dengan cepat.
Prosedur pelaporan kasus Rabies pada instansi terkait :
  1. Masyarakat curiga terhadap hewan yang diduga Rabies, dapat melaporkan pada pimpinan unit kesehatan setempat atau petugas peternakan di kecamatan.
  2. Laporan yang telah diterima dari Kepala Desa/Camat diteruskan kepada Bupati/Walikotamadya Daerah TK II.
  3. Laporan dari pimpinan unit kesehatan setempat/petugas peternakan di kecamatan segera melaporkan kepada kepala Dinas Peternakan Kabupaten/Kotamadya Daerah TK. II
  4. Kepala Dinas Peternakan di Kabupaten/Kotamadya setelah menerima laporan, harus segera disampaikan kepada Bupati/Walikotamadya Daerah TK II.
  5. Dinas Peternakan yang telah melakukan pemeriksaan klinis dan menerima hasil pemeriksaan laboratorium, segera memberikan laporan kepada unit kesehatan yang melakukan perawatan penderita.
  6. Pimpinan Unit Kesehatan yang merawat penderita gigitan hewan yang diduga rabies, harus segera melaporkan kepada Dinas Peternakan.
  7. Selanjutnya instansi-instansi terkait yang dimaksud, selanjutnya memberikan laporan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
sumber: dari berbagai sumber dan http://vet02ugm.wordpress.com


Oleh. drh. Dyah Mahendrasari
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang

Rabies merupakan suatu penyakit hewan menular akut yang disebabkan oleh virus neurotropik dari ss RNA virus; genus Lyssavirus; famili Rhabdoviridae. Virus Rabies termasuk dalam serotipe 1, serotipe 2 (Lagos bat virus), serotipe 3 (Mokola rhabdovirus), dan serotype 4 (Duvenge rhabdovirus).
Rabies menyerang sistem syaraf pusat hewan berdarah panas dan manusia. Bersifat zoonosis yaitu dapat menular pada manusia lewat gigitan atau cakaran. atau dapat pula lewat luka yang terkena air liur hewan penderita rabies Hewan yang terinfeksi dapat berubah menjadi lebih agresif/ ganas dan dapat menyerang manusia.. Rabies sangat berbahaya, bila ditemukan gejala klinis dan penanganannya tidak benar biasanya diikuti kematian, baik pada hewan maupun manusia.


Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan Dan Manusia
Pada hewan, penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).
Tanda – tanda Rabies bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) :
  • Suka bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk.
  • Terjadi kelumpuhan tubuh, hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.
  • Kejang berlangsung singkat dan kadang sering tidak terlihat.
  • Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Kematian akan terjadi dalam beberapa jam.
Tanda – tanda Rabies bentuk ganas (Furious Rabies) :
  • Hewan menjadi tidak ramah, agresif dan tidak lagi menurut pemiliknya.
  • Air liur keluar berlebihan, nafsu makan hilang, suara menjadi parau
  • Menyerang dan menggigit apa saja yang dijumpai.
  • Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilengkungkan ke bawah perut diantara kedua paha belakangnya .
  • Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain, tetapi bila dipegang akan menggigit dan menjadi ganas dalam beberapa jam.
  • Kejang-kejang kemudian lumpuh, biasanya mati setelah 4-7 hari timbul gejala atau paling lama 12 hari setelah penggigitan.
Pada hewan pemamah biak, tanda klinis rabies ditandai hewan menjadi gelisah, gugup, liar dan rasa gatal pada tubuh, terdapat kelumpuhan pada kaki belakang dan akhirnya hewan akan mati.
Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia
  • Stadium permulaan rabies sulit diketahui, sehingga perlu diperhatikan riwayat gigitan hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera .
  • Timbul gejala-gejala lesu, nafsu makan hilang, mual, demam tinggi, sakit kepala, dan tidak bisa tidur.
  • Rasa nyeri di tempat bekas luka gigitan dan nampak kesakitan serta menjadi gugup, bicara tidak karuan, dan selalu ingin bergerak
  • Rasa takut pada air yang berlebihan, peka suara keras dan cahaya serta udara.
  • Air liur dan air mata keluar berlebihan, pupil mata membesar.
  • Kejang-kejang lalu mengalami kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia. Biasanya penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala-gejala / tanda-tanda pertama timbul.
Diagnosa
Rabies dapat dilakukan dengan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan histophatologis jaringan otak, (hippocampus, cortex, medulla oblongata), test DFA dari jaringan kulit-biopsi kulit dari sensory vibrissae dari area maxillary, termasuk folikel rambut subkutan terdalam. ELISA, identifikasi antibodimonoklonal, isolasi secara biologis pada hewan percobaan dan identifikasi virus dengan uji serologis seperti FAT, immunoperoxide, VN, dan FAVN.
Diferensial diagnosis
Hewan yang diduga rabies harus cermat dan serius saat monitoring/observasi, apabila anjing dan kucing memperlihatkan perubahan perilaku atau menunjukkan gejala syaraf yang tidak diketahui sebabnya. Gejala syaraf kadang dapat diakibatkan oleh penyakit syaraf – tumor otak, viral encephalitis, luka kepala, paralysis laryngeal, maupun infeksi virus pseudorabies.
Cara Penularan
Semua hewan berdarah panas rentan terhadap rabies serta berpotensi menularkan rabies pada manusia. Hewan-hewan yang biasa menyebarkan penyakit rabies adalah anjing, kucing, kelelawar, kera, dan karnivora liar. Lebih dari 90% kasus rabies pada manusia ditularkan oleh anjing.
Pada hewan penderita Rabies, virus terdapat di susunan syaraf pusat dan ditemukan dengan jumlah banyak pada air liurnya. Virus ditularkan ke hewan lain atau ke manusia melalui luka gigitan hewan penderita rabies dan luka yang terkena air liur hewan atau manusia penderita rabies.
Masa inkubasi penyakit Rabies pada hewan timbul kurang lebih 2 minggu (10 hari – 8 minggu) setelah gigitan hewan rabies. Sedangkan pada manusia 2-3 minggu sampai 1 tahun, tergantung pada lokasi luka gigitan (jauh dekatnya luka dengan susunan syaraf pusat), banyaknya syaraf pada sekitar luka gigitan, pathogenitas dan jumlah virus yang masuk melalui luka gigitan, jumlah luka gigitan, serta dalam dan parahnya luka bekas gigitan
Penanganan Kasus Hewan Penderita Rabies
Seseorang yang digigit hewan penderita rabies penanganan yang dilakukan harus ditangani dengan secepat dan sesegera mungin, hal tersebut bertujuan untuk mengurangi efek maupun mematikan virus rabies yang masuk ke tubuh melalui luka gigitan :
  1. Usaha yang paling efektif untuk dilakukan adalah dengan segera mencuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Lalu keringkan dengan kain yang bersih..
  2. Luka diberi antiseptik (obat luka yang tersedia misalnya betadine, obat merah, alkohol 70%, Yodium tincture atau lainnya) lalu dibalut dengan pembalut yang bersih.
  3. Penderita luka gigitan harus segera dibawa ke dokter, Puskesmas atau rumah sakit yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara maupun perawatan lebih lanjut, sambil menunggu hasil observasi hewan tersangka rabies.
  4. Walaupun sudah dilakukan pencucian luka gigitan, penderita harus dicuci kembali lukanya di Puskesmas atau rumah sakit.
  5. Luka gigitan dibalut longgar dan tidak dibenarkan dijahit, kecuali pada luka yang sangat parah. Jika keadaan terpaksa dilakukan penjahitan, maka harus diberikan serum anti rabies (SAR) sesuai dosis, selain itu dipertimbangkan perlu tidaknya pemberian vaksin anti tetanus, maupun antibiotik dan analgetik.
Hewan – hewan yang mengigit manusia dan dicurigai menderita rabies, maka harus diambil tindakan sebagai berikut :
  1. Hewan yang menggigit harus ditangkap dan dilaporkan ke instansi terkait ( Dinas Peternakan dan Pertanian ) untuk dilakukan observasi dan diperiksa kesehatannya selama 10 – 14 hari.
  2. Jika mati dalam observasi maka kepala anjing tersebut dikirim ke laboratorium untuk kepastian diagnosa penyebab kematian. Tetapi bila hasil observasi negatif rabies yaitu hewan tetap hidup, maka hewan divaksinasi anti rabies
  3. Hewan pasca observasi dan sudah disuntik rabies, dapat dikembalikan kepada pemiliknya. Apabila tidak diketahui pemiliknya (hewan liar) maka hewan dapat dimusnahkan atau diberikan pada orang yang berminat memelihara.
  4. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap, maka harus dibunuh dan diambil kepalanya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
  5. Bila hewan yang menggigit tidak dapat ditemukan, maka orang yang mengalami gigitan harus dibawa ke rumah sakit khusus.
Pengobatan
Pada hewan tidak ada pengobatan yang efektif, sehingga apabila hasil diagnosa positif rabies, diindikasikan mati/euthanasia. Sedangkan pada manusia dapat dilakukan pengobatan Pasteur, pemberian VAR dan SAR sesuai dengan prosedur standar operasi (SOP).
Pencegahan Rabies
Kasus zoonosis yaitu penyakit menular dari hewan ke manusia, cara penanganannya dan pencegahannya ditujukan pada hewan penularnya. Pada manusia, vaksin rutin diberikan kepada orang-orang yang pekerja dengan resiko tinggi, seperti dokter hewan, pawang binatang, peneliti khusus hewan dan lainnya.
Selain itu pencegahan rabies pada hewan dapat dilakukan dengan cara :
  1. Memelihara anjing dan hewan lainnya dengan baik dan benar. Jika tidak dipelihara dengan baik dapat diserahkan ke Dinas Peternakan atau para pecinta hewan.
  2. Mendaftarkan anjing ke Kantor Kelurahan/Desa atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
  3. Pada hewan virus rabies dapat ditangkal dengan vaksinasi secara rutin 1-2 kali setahun tergantung vaksin yang digunakan, ke Dinas Peternakan, Pos Kesehatan Hewan atau Dokter Hewan Praktek
  4. Semua anjing/kucing yang potensial terkena, divaksin setelah umur 12 minggu, lau 12 bulan setelahnya, dilanjutkan dengan tiap 3 tahun dengan vaksin untuk 3 tahun, untuk kucing harus vaksin inaktif
  5. Penangkapan/eliminasi anjing, kucing, dan hewan lain yang berkeliaran di tempat umum dan dianggap membahayakan manusia.
  6. Pengamanan dan pelaporan terhadap kasus gigitan anjing, kucing, dan hewan yang dicurigai menderita rabies.
  7. Penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit rabies.
  8. Menempatkan hewan didalam kandang, memperhatikan serta menjaga kebersihan dan kesehatan hewan.
  9. Setiap hewan yang beresiko rabies harus diikat/dikandangkan dan tidak membiarkan anjing bebas berkeliaran.
  10. Menggunakan rantai pada leher anjing dengan panjang tidak lebih dari 2 meter bila tdak dikandang atau saat diajak keluar halaman rumah.
  11. Tidak menyentuh atau memberi makan hewan yang ditemui di jalan
  12. Daerah yang sudah bebas rabies, haeus mencegah masuknya anjing, kucing atau hewan sejenisnya dari daerah yang tertular rabies.
  13. Pada area terkontaminasi dilakukan desinfeksi menggunakan 1:32 larutan (4 ounces per gallon) dari pemutih pakaian untuk menginaktifkan virus dengan cepat.
Prosedur pelaporan kasus Rabies pada instansi terkait :
  1. Masyarakat curiga terhadap hewan yang diduga Rabies, dapat melaporkan pada pimpinan unit kesehatan setempat atau petugas peternakan di kecamatan.
  2. Laporan yang telah diterima dari Kepala Desa/Camat diteruskan kepada Bupati/Walikotamadya Daerah TK II.
  3. Laporan dari pimpinan unit kesehatan setempat/petugas peternakan di kecamatan segera melaporkan kepada kepala Dinas Peternakan Kabupaten/Kotamadya Daerah TK. II
  4. Kepala Dinas Peternakan di Kabupaten/Kotamadya setelah menerima laporan, harus segera disampaikan kepada Bupati/Walikotamadya Daerah TK II.
  5. Dinas Peternakan yang telah melakukan pemeriksaan klinis dan menerima hasil pemeriksaan laboratorium, segera memberikan laporan kepada unit kesehatan yang melakukan perawatan penderita.
  6. Pimpinan Unit Kesehatan yang merawat penderita gigitan hewan yang diduga rabies, harus segera melaporkan kepada Dinas Peternakan.
  7. Selanjutnya instansi-instansi terkait yang dimaksud, selanjutnya memberikan laporan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
sumber: dari berbagai sumber dan http://vet02ugm.wordpress.com

1 komentar:

  1. ikhhh takut amat kalau di gigit hewan yang membawa penyakit seperti anjing,

    makasihnya atas tipsnya,,
    salam kenal

    BalasHapus